1. Beranda
  2. Hosting
  3. Cara Pindah Hosting Tanpa Downtime: Checklist Migrasi Website
Hosting

Cara Pindah Hosting Tanpa Downtime: Checklist Migrasi Website

Checklist pindah hosting tanpa downtime: backup lengkap, turunkan TTL, uji lewat file hosts, ganti DNS, jaga email dan SSL, lalu pantau hasilnya.

Daftar isi
  1. Inventaris sebelum mulai
  2. Langkah migrasi
  3. Sumber dan referensi

Downtime saat pindah hosting jarang disebabkan oleh proses menyalin file. Penyebabnya lebih sering urutan langkah yang keliru: DNS diubah sebelum website di server baru siap, cache DNS masih mengarah ke server lama, atau email terputus karena catatan MX terlupa. Checklist berikut menyusun migrasi dalam urutan yang aman, sehingga pengunjung tetap dilayani oleh salah satu server selama masa peralihan.

Inventaris sebelum mulai

Catat semua komponen yang terlibat dalam website Anda. Banyak masalah migrasi muncul dari layanan yang tidak disadari keberadaannya.

  • Akses ke registrar domain dan lokasi pengelolaan DNS saat ini (di registrar, di hosting lama, atau di layanan DNS pihak ketiga).
  • Daftar semua catatan DNS: A, AAAA, CNAME, MX, TXT (termasuk SPF, DKIM, dan DMARC), serta catatan verifikasi layanan lain.
  • Lokasi email: apakah kotak masuk ada di hosting lama atau di layanan email terpisah.
  • Versi PHP, ekstensi PHP, dan versi database di server lama.
  • Cron job, subdomain, pengalihan URL, dan aturan khusus di .htaccess.
  • Integrasi yang bergantung pada alamat IP server, misalnya payment gateway atau API yang membatasi akses berdasarkan IP.

Langkah migrasi

1. Turunkan TTL DNS satu sampai dua hari sebelumnya

TTL (time to live) menentukan berapa lama resolver DNS menyimpan jawaban di cache. Jika TTL catatan A Anda 86.400 detik (24 jam), sebagian pengunjung bisa tetap diarahkan ke server lama hingga satu hari setelah IP diganti. Turunkan TTL catatan yang akan diubah ke nilai kecil, misalnya 300 detik, lalu tunggu setidaknya selama nilai TTL lama sebelum memindahkan DNS. Setelah migrasi stabil, naikkan kembali TTL-nya.

2. Buat backup lengkap

Backup harus mencakup seluruh file website, termasuk file tersembunyi seperti .htaccess, dan ekspor database dalam format SQL. Bila email ada di hosting lama, cadangkan juga kotak masuknya. Di cPanel, menu Backup bisa menghasilkan backup penuh akun atau backup terpisah untuk folder utama dan database. Unduh semuanya ke komputer Anda, jangan hanya disimpan di server lama.

3. Siapkan hosting baru

Tambahkan domain di hosting baru, samakan versi PHP dan ekstensinya dengan server lama, lalu buat database dan pengguna database. Jangan mengubah nameserver atau catatan DNS pada tahap ini.

4. Impor file dan database

Unggah file ke folder utama domain di hosting baru, lalu impor file SQL lewat phpMyAdmin atau fitur restore di panel. Perbarui kredensial database di file konfigurasi aplikasi; di WordPress, file itu adalah wp-config.php. Sebagian penyedia bisa memulihkan backup penuh cPanel secara langsung, jadi tanyakan ke dukungan teknis hosting baru.

5. Uji website lewat file hosts

Cara paling andal untuk menguji tanpa mengubah DNS publik adalah mengedit file hosts di komputer Anda. Dengan begitu, hanya komputer Anda yang membuka domain di server baru.

  1. Buka file hosts dengan hak administrator. Di Windows, lokasinya C:\Windows\System32\drivers\etc\hosts. Di macOS dan Linux, lokasinya /etc/hosts.
  2. Tambahkan satu baris berisi IP server baru diikuti nama domain, misalnya 203.0.113.10 domainanda.com www.domainanda.com.
  3. Simpan, tutup browser, lalu buka kembali domain Anda.
  4. Uji halaman utama, formulir, login admin, pencarian, keranjang belanja, dan unggah gambar.
  5. Hapus baris tersebut setelah pengujian selesai.

Sebagian hosting menyediakan URL sementara untuk pratinjau. Untuk WordPress, cara ini kurang ideal karena WordPress cenderung mengalihkan pengunjung ke alamat situs yang tersimpan di database, sehingga file hosts tetap lebih akurat.

6. Bekukan perubahan konten

Pada website yang datanya terus berubah, seperti toko online atau situs dengan komentar dan pendaftaran anggota, data yang masuk ke server lama setelah backup akan hilang bila tidak disinkronkan. Pilih jendela migrasi di jam sepi, hentikan sementara penambahan konten, lalu ambil ekspor database terakhir tepat sebelum DNS dipindahkan.

7. Siapkan SSL di server baru

Sertifikat yang memakai validasi HTTP baru bisa diterbitkan setelah domain mengarah ke server baru, sehingga bisa ada jeda singkat ketika HTTPS belum valid. Untuk memperkecil jeda itu, tanyakan apakah hosting baru bisa menerbitkan sertifikat lewat validasi DNS sebelum perpindahan, atau jalankan penerbitan sertifikat segera setelah DNS berpindah. Detailnya ada di panduan memasang SSL gratis Let's Encrypt.

8. Pindahkan DNS

Ada dua cara mengarahkan domain ke server baru:

Cara Yang berubah Kecepatan efek Risiko utama
Ubah A record Hanya IP tujuan website Mengikuti TTL yang sudah diturunkan Kecil, catatan lain tetap di tempat
Ganti nameserver Seluruh pengelolaan DNS pindah ke penyedia baru Lebih lambat, melibatkan registry MX dan TXT hilang bila tidak disalin

Jika DNS Anda dikelola di luar hosting lama, cukup ubah A record (dan AAAA bila ada). Jika harus mengganti nameserver, buat dulu semua catatan DNS di zona baru, sama persis dengan zona lama, sebelum nameserver diganti di registrar. TTL catatan nameserver di tingkat registry tidak bisa Anda atur, sehingga perubahan nameserver umumnya butuh waktu lebih lama untuk terlihat di semua jaringan, kadang hingga satu atau dua hari.

9. Jaga email tetap berjalan

Email adalah bagian yang paling sering rusak saat migrasi. Perhatikan dua skenario:

  • Email di hosting lama dan ikut pindah: buat akun email yang sama di hosting baru, pindahkan isi kotak masuk, lalu arahkan catatan MX ke server baru. Pesan yang masuk ke server lama selama masa peralihan perlu dicek dan dipindahkan setelahnya.
  • Email di layanan terpisah: jangan ubah catatan MX. Pastikan MX, SPF, DKIM, dan DMARC disalin persis ke zona DNS baru bila nameserver diganti.

Cara mengatur email berdomain sendiri dan catatan DNS-nya kami bahas di panduan membuat email domain sendiri.

10. Pantau setelah perpindahan

Selama beberapa hari setelah DNS berpindah, periksa:

  • Website dari beberapa jaringan berbeda, misalnya Wi-Fi kantor dan data seluler.
  • Log error di panel hosting baru.
  • Formulir kontak dan email transaksi, seperti email pesanan dan reset kata sandi.
  • Cron job dan backup otomatis di server baru.
  • Laporan pengindeksan dan HTTPS di Google Search Console, untuk memastikan Google tidak menemukan error baru.

11. Hentikan hosting lama belakangan

Jangan langsung membatalkan hosting lama. Biarkan aktif setidaknya satu sampai dua minggu, cek log aksesnya untuk memastikan tidak ada lagi trafik yang masuk, lalu unduh backup terakhir sebelum layanan dihentikan. Perhatikan juga tanggal perpanjangannya agar Anda tidak tertagih periode baru yang tidak terpakai.

Migrasi tanpa downtime pada dasarnya soal urutan: siapkan dan uji semuanya di server baru, baru pindahkan DNS, lalu biarkan server lama tetap hidup sampai cache DNS di seluruh internet diperbarui. Simpan checklist ini dan centang setiap langkahnya, sehingga migrasi berikutnya berjalan jauh lebih tenang.

Sumber dan referensi